Seperti Apa Aroma Semut?
Aroma semut tidak hanya berguna untuk penanda jejak. Namun, bermanfaat pula untuk identifikasi dan perlindungan diri koloni
26 Februari 2022
- HAPenulisHilaria Arum
- BBEditorBolu Bubu

Ada lebih dari 13.000 spesies semut. Untuk membedakan setiap spesies, terdapat cara unik yang bermanfaat. Clint Penick, asisten profesor ekologi, evolusi dan biologi organisme di Kennesaw State University di Georgia, mengatakan dalam wawancaranya bersama Live Science, salah satu caranya adalah melalui aroma.
Tidak semua spesies semut memiliki aroma yang dapat dideteksi oleh hidung manusia. Beberapa di antaranya memiliki aroma yang ringan, dan ada pula hanya bisa tercium setelah dihancurkan. Namun, beberapa semut dapat tercium dari kejauhan jika mereka berada dalam koloni yang cukup besar.
Terdapat empat aroma utama yang diketahui dikeluarkan semut. Pertama, aroma citronella — dari semut citronella atau juga dikenal sebagai semut kuning besar ( Lasius interjectus ) dan semut kuning kecil ( Lasius claviger ). Beberapa orang menggambarkan bau semut ini lebih menyerupai lemon. “Bau serai wangi dianggap sebagai sesuatu yang mereka gunakan untuk mempertahankan diri atau membuat mereka tidak disukai pemangsa,” ungkap Penick.
Kedua, bau semut Odontomachus ( trap-jaw ant ) yang menyerupai cokelat dan sama sekali tidak menjijikkan. Semut pemangsa ini menghasilkan feromon di kelenjar di kepala mereka untuk memberi tahu anggota koloni lainnya saat mereka dalam bahaya dengan mengeluarkan aroma seperti cokelat. Sayangnya, semut ini harus dihancurkan terlebih dahulu untuk mengetahui aromanya. “Saya hanya melakukannya sekali untuk melihat apakah itu benar, tetapi biasanya saya mencoba menghindarinya,” kata Penick.
Ketiga, beberapa semut termasuk semut kayu ( Formica ) dan semut tukang kayu ( Camponotus ) memiliki bau berbeda yang digunakan untuk pertahanan diri sebagai pengganti sengatan. “Mereka bisa menghentikan beruang dengan asam format jika mereka semua berkumpul dan menyemprot,” kata Penick.
Terakhir sekaligus yang sempat kontroversial adalah Tapinoma sessile. Penick mengatakan, dia dan rekan-rekannya berhasil menyelesaikan perdebatan ini dengan sebuah studi tahun 2015 yang diterbitkan dalam jurnal American Entomologist.
Semut rumah yang berbau busuk telah lama dianggap berbau seperti kelapa, atau terkadang seperti mentega busuk. Tetapi, ketika Penick mengendusnya untuk pertama kalinya, dia mencium aroma keju biru. Jadi, dia mengirim tiga makanan — salah satu di antaranya adalah mentega yang dibiarkan membusuk di dapurnya — dan sampel semut ke laboratorium yang memiliki sebuah alat bernama kromatografi gas ( gas chromatograph ). Alat ini dapat menganalisa senyawa volatil yang dilepaskan ke udara untuk membandingkan antara senyawa yang membentuk bau makanan dan aroma semut. Hasilnya, tim peneliti menemukan kecocokan antara semut tersebut dan keju biru.
Pada saat yang sama, Penick meminta orang-orang menilai seperti apa bau semut itu menurut mereka. Kebanyakan mengatakan seperti aroma keju biru, tetapi ada pula yang mengira kelapa busuk. Jadi, Penick membusukkan kelapa di halaman belakang rumahnya lalu menemukan jamur yang tumbuh di atasnya. Ternyata, itu adalah jamur yang sama ( Penicillium roqueforti ) seperti yang digunakan untuk memproduksi keju biru. Misteri terpecahkan.
More stories

Tiny Kitten Found in a Rice Field Gets a Second Chance
Volunteers in Ubud nursed little Mochi back to health — and now she rules her new home.
3 menit baca

Meet Rex, the Corgi Who Has His Own Coffee Order
Every barista in South Jakarta knows Rex's order: puppuccino, extra love.
2 menit baca
